Menilik Potensi Sidat sebagai Komoditas Ekspor

Sidat atau yang lebih dikenal dengan nama unagi merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki gizi yang tinggi. Namun sayangnya, dikarenakan masyarakat Indonesia tidak terbiasa untuk mengkonsumsi jenis ikan yang sering disebut seperti belut ini menyebabkan hanya sedikit pelaku bisnis yang menekuni bidang budidaya ikan sidat ini. Padahal komoditas sidat  ini merupakan potensi yang menjanjikan bagi ladang usaha masyarakat Indonesia.

Tidak seperti beberapa komoditas perikanan jenis lain, sidat bicolor termasuk salah satu jenis komoditas yang terkesan sulit ditemui. Ikan sidat sendiri merupakan jenis ikan asli Indonesia. Berdasarkan data dari GBIF (Global Biodiversity Information Facility) menunjukan bahwa negara Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai banyak benih sidat yang dapat dikembangkan dibandingkan dengan negara-negara penghasil sidat lainnya seperti China dan Taiwan. Indonesia menempati posisi kedua setelah Jepang yang merupakan negara penghasil komoditas sidat terbanyak.

Banyaknya keinginan konsumsi ikan sidat terutama bagi negara Jepang membawa penawaran menarik bagi Indonesia selaku salah satu penghasil ikan sidat. Kementerian Keuangan Jepang menyebutkan bahwa produksi ikan sidat di Jepang semakin menurun dan harus mengekspor kebutuhan sidat dari luar Jepang. Menurut data dari Fisheries Agency tahun 2012 Jepang hanya mampu memproduksi sebesar 33,5% sisanya sebanyak 67,5% harus di import dari luar negeri yang diantaranya China sebesar 54,1% dan 12,4% dari negara lain seperti Indonesia. Pada tahun 2015 Indonesia presentase import sidat dari indonesia menyentuh angka 5,3%.

Berdasarkan data sementara dari Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2019 jumlah ekspor sidat mengalami peningkatan sekitar 25% dibandingkan tahun sebelumnya. KKP mencatat jumlah ekspor sidat mencapai angka 5.186 ton dimana jumlah ini mengalami peningkatan dari tahun 2018 yang hanya berjumlah 4.142 ton.  Hal ini diharapkan dapat menjadi peluang Indonesia untuk mengekspor sidat lebih banyak lagi.

Besarnya jumlah permintaan konsumsi sidat terutama untuk Asia Timur seperti Jepang, Hongkong dan Korea Selatan membuka peluang besar bagi Indonesia mengingat 12 dari 18 jenis ikan sidat berasal dari perairan Indonesia. Tentunya dalam upaya merealisasikan hal ini dibutuhkan persiapan yang mumpuni.

Pemerintah Indonesia sendiri sudah menyusun Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) terkait upaya penyedia. Upaya budidaya yang coba dilakukan adalah melalui kolam terpal yang bisa dilakukan dengan mudah dengan biaya yang lebih terjangkau dari pembuatan kolam permanen. Upaya ini harus segera dilakukan dengan cepat karena pemanfaatan ikan sidat sebagai bahan konsumsi terus meningkat setiap tahunnya bahkan bisa terancam punah bila jumlah penangkapan sidat di alam tidak diatur.

Untuk itu, dibutuhkan inovasi-inovasi baru yang mendukung upaya pemerintah guna meningkatkan produksi ikan sidat sehingga menambah jumlah ekspor sidat dari Indonesia. Potensi besar ikan sidat ini disambut baik oleh Unafeed sebagai startup yang mengembangkan solusi budidaya sidat yang terintegrasi.

Unafeed merupakan salah satu pemenang Hack a farm 2019 yang berhasil berprogres mengembangkan teknologinya. Pada 2018 lalu Unafeed baru mengembangkan sebuah auto feeder bagi ikan sidat yang kemudian melalui Hack a Farm ide ini tervalidasi untuk diteruskan menjadi sebuah teknologi. Melalui mentoring setiap bulannya, Unafeed berdinamika untuk terus menambah capability alat. Unafeed juga mulai mengintegrasikan penyediaan bibit ikan sidat, monitoring kolam sidat hingga pada penjualannya. Sebuah teknologi yang mampu jadi solusi bagi pembudidaya sidat di Indonesia.

Pada proses budidaya, Unafeed memiliki layanan dalam pemberian pakan secara otomatis dan monitoring kolam sehingga memudahkan petambak sidat dalam managemen budidaya. Sidat atau unagi merupakan ikan yang memiliki proses pencernaan yang unik sehingga pemberian pakan perlu dilakukan dengan cara yang khusus. Dengan pakan sidat otomatis, pelet akan diolah menjadi adonan pasta yang kalis untuk dapat dimakan sidat dan akan ditebarkan secara otomatis pada kolam.

Pada proses pasca panen, Unafeed memiliki pasar di lembaga kerjasama Indonesia Jepang bernama IJB (Indonesia Japan Business). Melalui lembaga ini, komoditas sidat memperoleh gerbang untuk dapat di ekspor ke negara Jepang sebagai negara pengkonsumsi sidat terbesar. Budidaya Unafeed yang terintegrasi ini menjadi sebuah angin segar bahwa generasi muda memiliki potensi untuk mengembangkan sektor akuakultur di Indonesia.

Hack a Farm 2020: Membangun Ekosistem Teknologi Bidang Pertanian

Hack a farm 2020 telah berlangsung secara online pada 15 – 17 September 2020 diikuti oleh 10 tim finalis terpilih. Selama tiga hari kesepuluh tim me....

Ini Fasilitas untuk Timmu di Hack a farm 2020

Hack a Farm 2020 merupakan wadah bagi generasi muda untuk berkumpul serta berkontribusi dalam menyelesaikan permasalahan dalam bidang pertanian secara....

Hack A Farm 2020 Dibuka, Kompetisi Daring untuk Majukan Agrikultur dan Akuakultur

Hack A Farm merupakan kompetisi inovasi teknologi dalam bidang agrikultur dan akuakultur yang telah berlangsung dua kali pada tahun 2016 dan 2019. Hac....