Talk Series 1 #Hackafarm, Melihat Potensi Pertanian

Talk Series pertama dari rangkaian acara Hack a Farm bertema Innovation in Agriculture – Surviving in Time of Crisis and Welcoming New Business Opportunity telah dilaksanakan Kamis, 25 Juni 2020 yang lalu. Sharing session yang pertama ini menghadirkan praktisi dan akademisi di bidang pertanian agar bisa memberikan sudut pandang yang luas.

Pada sesi pertama, Aryo Wiryawan selaku CEO dari Indmira Group menyampaikan pengaruh pandemi Covid-19 ini pada pola perilaku konsumen terutama pada pembelian bahan pangan. Efek lain dari pandemik adalah meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pola hidup sehat sehingga konsumsi buah, sayur, dan makanan sehat juga ikut meningkat. Berbagai perubahan yang terjadi ini membuka kesempatan berinovasi untuk berbagai peluang bisnis baru. Hal terpenting saat mulai berinovasi adalah LISTEN TO CUSTOMER dan melakukan validasi langsung ke konsumen. Sistem yang dapat diterapkan untuk memudahkan proses validasi ini adalan menggunakan metode Build, Measure, and Learn.

Memahami customer untuk mengembangkan produk
sumber: Presentasi CEO Indmira

Aryo juga menjelaskan studi kasus di bidang akuakultur dan bidang pertanian. Pada bidang akuakultur misalnya, kendala yang muncul akibat adanya pandemik adalah penyerapan 80% produksi udang yang biasanya diekspor harus terhenti karena negara pengimpor harus melakukan pembatasan. Sedangkan pada studi kasus bidang pertanian adalah penerapan sistem kerjasama antara kelompok tani produsen cabai merah dengan pabrik pengolahan sehingga hasil panen dari petani dapat langsung terserap. Dari kedua studi kasus ini, Aryo menegaskan besarnya peluang inovasi yang dapat dilakukan dalam system rantai pasok komoditas pertanian agar berjalan lebih efektif dan efisien.

Permasalahan panjangnya rantai pasok di bidang agrokompleks ini semakin diperjelas pada sesi kedua yang disampaikan oleh Sariyo dari Tanihub. Permasalahan yang menjadi fokus perhatian Tanihub adalah rantai pasok yang terlalu panjang sehingga petani mendapatkan margin kecil. Hal ini semakin diperparah dengan tidak adanya transparansi harga. Tanihub kemudian fokus melakukan inovasi untuk mewadahi produksi hasil tani dari petani dan menghubungkan dengan permintaan konsumen.

Di era pandemik seperti sekarang, Tanihub harus fleksibel dan cepat beradaptasi dengan perubahan pola perilaku konsumen. Layanan yang diuncurkan oleh Tanihub adalah Contactless Delivery untuk memfasilitasi keresahan konsumen yang ingin berbelanja secara aman. Tanihub juga menerapkan berbagai protokol kesehatan seperti pengecekan suhu karyawan, wajib menggunakan masker dan APD lain, serta rutin melakukan penyemprotan disinfektan di gudang penyimpanan. Menurut Sariyo, masalah yang dihadapi dalam masa pandemik ini tidak jauh berbeda dari masalah klasik di bidang pertanian. Peluang berinovasi masih sangat terbuka dan akan lebih mudah apabila kita bisa merunut dari rantai pasok produk pertanian.  Secara garis besar, rantai pasok produk pertanian dan masalah yang dihadapi tiap fase dapat digambarkan dalam bagan berikut :

Tantangan Pertanian Indonesia
sumber: Presentasi Director TaniSupply, TaniHub Group

Di mulai dari Preharvest, masalah yang kerap dihadapi petani adalah pembiayaan, tingginya biaya input, dan tidak adanya perkiraan permintaan pasar atas suatu komoditas. Masalah yang dihadapi setelah panen pun sangat beragam. Salah satu kendala terbesar adalah tantangan mengenai penyimpanan dan pendistribusian produk pertanian. Sifat produk pertanian yang mudah rusak tentu membutuhkan teknik penyimpanan tertentu untuk menjaga kesegaran produk selama proses distribusi. Kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan juga menjadi tantangan tersendiri bagaimana kita bisa meningkatkan efisiensi dan efektivitas pendistribusian produk pertanian.

Pemateri ketiga merupakan dosen dari Prodi Agribisnis Universitas Brawijya, Wisynu Ari Gutama memberikan sudut pandang lain pada sesi ketiga. Di sesi terakhir ini, Wisynu memaparkan hasil penelitiannya tahun 2017 mengenai penerimaan konsumen pada system belanja online untuk produk pertanian. Di era digital seperti sekarang, perubahan pengembangan industri konvensional menjadi industri digital berpengaruh pada perubahan pola aktivitas ekonomi, jual beli dan komunikasi. Penggunaan website, aplikasi, ecommerce, dan digital payment semakin meningkat. Dalam beberapa penelitian yang dilakukan mengenai penggunaan teknlogi dalam aktivitas jual beli terlihat bahwa faktor kebermanfaatan dan kemudahan berpengaruh pada penggunaan teknologi dalam berbelanja. Poin kemudahan dan kebermanfaatan ditekankan oleh Wisynu bagi setiap pengembang teknologi agar nantinya produk mudah diterima oleh user.

Dari ketiga narasumber pada Talk Series Hackafarm yang pertama ini kita bisa mendapatkan berbagai sudut pandang mengenai kendala yang dihadapi praktisi bidang pertanian. Semua kendala dalam bidang pertanian ini bisa dipandang sebagai peluang atau potensi untuk berinovasi dengan menggunakan kemajuan teknologi. Harapannya dengan semakin banyak inovasi yang dilakukan di bidang pertanian maka lebih banyak masalah yang dapat terselesaikan dan pertanian Indonesia semakin maju.

Hack a Farm mewadahi berbagai ide dan inovasi teknologi pertanian dan perikanan. Kembangkan inovasi dengan submit ide ke website Hack a Farm, dapatkan kesempatan untuk mengikuti 36 jam hackathon online, workshop, mentoring dan pitching.

Hack a Farm 2020: Membangun Ekosistem Teknologi Bidang Pertanian

Hack a farm 2020 telah berlangsung secara online pada 15 – 17 September 2020 diikuti oleh 10 tim finalis terpilih. Selama tiga hari kesepuluh tim me....

Ini Fasilitas untuk Timmu di Hack a farm 2020

Hack a Farm 2020 merupakan wadah bagi generasi muda untuk berkumpul serta berkontribusi dalam menyelesaikan permasalahan dalam bidang pertanian secara....

Hack A Farm 2020 Dibuka, Kompetisi Daring untuk Majukan Agrikultur dan Akuakultur

Hack A Farm merupakan kompetisi inovasi teknologi dalam bidang agrikultur dan akuakultur yang telah berlangsung dua kali pada tahun 2016 dan 2019. Hac....